Amazon

marketiva

Friday, June 5, 2009

DAFTAR ANGGOTA DPR RI 2009-2014

DAFTAR ANGGOTA DPR RI 2009-2014

RATIONALITY AND EMOTION, Statement of Berlusconi

MILAN - Silvio Berlusconi speaks. The Milan president talked about the current topics at Milan: here are his main declarations of today to Mediaset's microphones.

"Football should be rationality and emotion. You can't take a decision only with reasoning, also because as you know I follow Erasmus of Rotterdam who said that the most right decisions are not the ones that come from intelligence, but those that come from a kind of visionary madness.'

'The Kaká case is quite complicated. Reason goes in one direction, sentiment goes the other way. Then there's Kaká's interest, as with Shevchenko, who was and still is a good friend of mine. When they offered him a bigger fee, I decided I could not oppose myself. We could not raise his salary the way Chelsea would with their offer, because by law we would have had to raise the salaries of all our players and this would have brought Milan to suffer heavy losses or to go bankrupt.
Already today we presented a balance with heavy losses over the years, because petrol dollars have entered football and some Russian personalities too. Going on like this there won't be a chance to have balanced accounts. We have to say stop to craziness and work by staying careful of the balances. We will reason on this. If aside from this, Kaká made it clear that they would pay him better we would leave it up to him. Me and Kaká have made an appointment for a long phone call on Monday. Not everything has been decided yet, inside of me I still hope for a surprise. Inside of me I hope.

'I don't want to hear talk of a redimensioned Milan, which is still the most winning club in the world. It's unthinkable that we would have to give up on our mission of being in command of the pitch and of the football. The mission will not change. Football has never been centered on this or that player. There are many good players. Milan will have to look for a true striker who would make us improve in quality going forward. I won't name names, or else the prices will increase...'

'Only Kaká is currently uncertain of staying, Pato, Seedorf and Pirlo are unsellable. We will renew Ambrosini's contract and he'll be our captain.'

'Ancelotti? There are cycles, then you have to change. There are some seasons where you have to say 'stop' and change. Leonardo will repeat the journey of Fabio Capello. I had seen excellent qualities in Capello as a manager, as a man and as a motivator. We made him start as a manager, then he went to coach youths, and then in the end, when we felt he was ready, we made him the coach, with the results we all know. The new coach will bring new ambition and excitement to Milan, we will aim for new targets with him. Carlo Ancelotti will do fine at Chelsea.'

'I told Cristiano Ronaldo that I would like to see him as a Rossonero and he looked at me... Who doesn't like Milan? All players would like to come to Milan.'

Thursday, May 21, 2009

HASlL AKHIR PEMILU 2009

Hasil Akhir Pemilu Legislatif 2009

Sumber: KPU
Sabtu, 09/05/2009 22:29 WIB

No Partai Politik Jumlah Suara Persentase
1 Demokrat (31) 21.703.137 20,85%
2 Golkar (23) 15.037.757 14,45%
3 PDIP (28) 14.600.091 14,03%
4 PKS (8) 8.206.955 7,88%
5 PAN (9) 6.254.580 6,01%
6 PPP (24) 5.533.214 5,32%
7 PKB (13) 5.146.122 4,94%
8 Gerindra (5) 4.646.406 4,46%
9 Hanura (1) 3.922.870 3,77%
10 PBB (27) 1.864.752 1,79%
11 PDS (25) 1.541.592 1,48%
12 PKNU (34) 1.527.593 1,47%
13 PKPB (2) 1.461.182 1,40%
14 PBR (29) 1.264.333 1,21%
15 PPRN (4) 1.260.794 1,21%
16 PKPI (7) 934.892 0,90%
17 PDP (16) 896.660 0,86%
18 Barnas (6) 761.086 0,73%
19 PPPI (3) 745.625 0,72%
20 PDK (20) 671.244 0,64%
21 RepublikaN (21) 630.780 0,61%
22 PPD (12) 550.581 0,53%
23 Patriot (30) 547.351 0,53%
24 PNBK (26) 468.696 0,45%
25 Kedaulatan (11) 437.121 0,42%
26 PMB (18) 414.750 0,40%
27 PPI (14) 414.043 0,40%
28 Pakar Pangan (17) 351.440 0,34%
29 Pelopor (22) 342.914 0,33%
30 PKDI (32) 324.553 0,31%
31 PIS (33) 320.665 0,31%
32 PNI M (15) 316.752 0,30%
33 Partai Buruh (44) 265.203 0,25%
34 PPIB (10) 197.371 0,19%
35 PPNUI (42) 142.841 0,14%
36 PSI (43) 140.551 0,14%
37 PPDI (19) 137.727 0,13%
38 Merdeka (41) 111.623 0,11%
39 PDA (36) 0 0,00%
40 Partai SIRA (37) 0 0,00%
41 PRA (38) 0 0,00%
42 Partai Aceh (39) 0 0,00%
43 PBA (40) 0 0,00%
44 PAAS (35) 0 0,00%

Jumlah 104.095.847 100%

Peserta Pemilu dapat mengajukan permohonan pembatalan penetapan hasil perhitungan perolehan suara oleh KPU kepada MK paling lama 3×24 jam sejak diumumkan penetapan perolehan suara hasil Pemilu secara nasional oleh KPU. 10-12 Mei 2009

Sunday, May 10, 2009

Pilih Basten atau Rijkaard



mau pilih siapa yang jadi pelatih AC Milanberikutnya kalau Ancelotti jadi pergi

Monday, April 27, 2009

Gedung Deputi Sumber Daya Perpustakaan



Terletak di Jalan Merdeka Selatan 11 Jakarta Pusat

Tahun Pemotretan : 2004
Fotografer : Supriatno

Gedung Sekretariat Utama dilihat dari utara



Gedung ini merupakan peninggalan zaman penjajahan Belanda, yaitu sekitar tahun 1920-an.

Tahun Pemotretan : 2004
Fotografer : Aristianto Hakim

edung Deputi I Perpustakaan Nasional RI





Tahun Pemotretan : 2002
Fotografer : Aristianto Hakim

Lahirnya Institusi Perpustakaan di Gedung Museum Nasional



Di Gedung Museum Nasional inilah lahirnya institusi Perpustakaan. Disinilah pada tahun 1778 oleh Bataviaasch Genoothschap van Kunsten en Wetenschappen dimulai suatu koleksi buku, majalah, peta, dokumen dan surat kabar local. Tahun 1962, Ibu Mastini Hardjoprakoso, MLS dipercaya mengelola Perpustakaan Museum Pusat. Oktober 1968 Perpustakaan Nasional mengadakan pameran koleksinya, saat itu Ibu Tien datang melihat pameran tsb. Ibu Negara prihatin dengan kondisi ruang –ruang penyimpanan koleksi seperti gedung yang lembab dan berdebu. Tahun 1971 Ibu Tien Soeharto sudah mendapat persetujuan dan dukungan dari Dewan Pengurus Yayasan Harapan kita untuk mewujudkan membangun suatu tempat yang wajar bagi koleksi nasional, majalah , monografi dan dokumen berharga lainnya. Ibu Negara sendirilah yang berupaya mencari tempat, saat melalui jalan Salemba Raya, Beliau jatuh hati pada suatu tempat yang sudah lama tidak terurus untuk dibangun sebuah gedung Perpustakaan Nasional
Sumber : Album No. 36 Koleksi Humas Perpusnas RI.


Tahun Pemotretan : 1988
Fotografer :

Gedung Utama Perpustakaan Nasional RI



Menyusul pembangunan Gedung Utama, Pembangunan Gedung Perpustakaan Nasional Blok B,C dan D masing-masing bertingkat 7, 9 dan 7 sudah selesai dibangun, keberadaan gedung tersebut masih dalam pengawasan Yayasan Harapan Kita dan belum diserahtterimakan ke Perpustakaan Nasional. November 1988

Sumber : Album No. 36 Koleksi Humas Perpusnas RI

Tahun Pemotretan : 1988
Fotografer :

Sejarah Perpustakaan Nasional RI





Foto Ilustrasi
Awalnya, Perpustakaan Nasional RI merupakan salah satu perwujudan dari penerapan dan pengembangan sistem nasional perpustakaan, secara menyeluruh dan terpadu, sejak dicanangkan pendiriannya tanggal 17 Mei 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef. Ketika itu kedudukannya masih berada dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan setingkat eselon II di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan, dan badan ini merupakan hasil integrasi dari empat perpustakaan besar di Jakarta.


Keempat perpustakaan tersebut, yang kesemuanya merupakan badan bawahan DitJen Kebudayaan, adalah:

- Perpustakaan Museum Nasional;
- Perpustakaan Sejarah, Politik dan Sosial (SPS);
- Perpustakaan Wilayah DKI Jakarta;
- Bidang Bibliografi dan Deposit, Pusat Pembinaan Perpustakaan;

Walau secara resmi Perpustakaan Nasional berdiri di pertengahan 1980, namun integrasi keseluruhan secara fisik baru dapat dilakukan pada Januari 1981. Sampai tahun 1987 Perpusnas masih berlokasi di tiga tempat terpisah, yaitu di Jl. Merdeka Barat 12 (Museum Nasional), Jl. Merdeka Selatan 11 (Perpustakaan SPS) dan Jl. Imam Bonjol 1 (Museum Naskah Proklamasi). Sebagai kepala Perpustakaan Nasional adalah ibu Mastini Hardjoprakoso, MLS, mantan kepala Perpustakaan Museum Nasional.

Atas prakarsa Almarhumah Ibu Tien Suharto, melalui Yayasan Harapan Kita yang dipimpinnya, Perpustakaan Nasional memperoleh sumbangan tanah seluas 16,000 m² lebih berikut gedung baru berlantai sembilan dan sebuah bangunan yang direnovasi. Lahan yang terletak di Jl. Salemba Raya 28A, Jakarta Pusat, itu waktu jaman kolonial dulu pernah dipakai untuk lokasi Koning Willem III School (Kawedri), yakni sekolah HBS pertama di Indonesia. Bangunan sekolah inilah yang kemudian setelah direnovasi menjadi gedung utama yang digunakan untuk kantor pimpinan dan sekretariat. Gedung di sebelahnya yang berlantai sembilan berfungsi sebagai perpustakaan yang sebenarnya, di mana koleksi bahan pustaka tersimpan dan dilayankan untuk umum.

Dengan selesainya pengerjaan sebagian gedung baru maupun yang direnovasi di Jl. Salemba Raya 28A pada awal 1987, pimpinan dan staf dari tiga bidang (kecuali Bidang Koleksi) pindah ke lokasi tersebut. Gedung baru itu beserta segala perlengkapannya menyatukan semua kegiatan di bawah satu atap yang sebelumnya terpencar di beberapa tempat di Jakarta. Pada usia Perpusnas yang ke-9, secara resmi kompleks itu dibuka yang ditandai dengan penandatanganan sebuah prasasti marmer oleh Presiden dan Ibu Tien Suharto pada tanggal 11 Maret 1989.

Namun, sejalan dengan peresmian kompleks tersebut, sebetulnya ada peristiwa lain yang tidak kalah pentingnya. Sejarah mencatat bahwa lima hari sebelumnya, tepatnya tanggal 6 Maret 1989, telah ditandatangani sebuah keputusan monumental oleh Presiden RI. Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1989 ini menetapkan Perpustakaan Nasional, setelah digabung dengan Pusat Pembinaan Perpustakaan (pimpinan Drs. Soekarman, MLS) , menjadi Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Kenaikan status kelembagaan ini juga berarti Perpusnas dilepas dari jurisdiksi Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Departemen Pendidikan Nasional), badan induknya yang telah membesarkannya sejak 1980. Ibu Mastini Hardjoprakoso masih dipercaya oleh Pemerintah untuk memimpin lembaga baru ini. Kenyataan ini sekaligus membuktikan komitmen Pemerintah di dalam menaikkan derajat perpustakaan (dan pustakawan) yang selama itu dirasakan selalu "dilupakan". Menurut catatan ketika penggabungan, jumlah koleksi berkisar di angka 600 ribu eksemplar, ditangani oleh sekitar 500 orang karyawan yang berlokasi di dua tempat terpisah, Jl. Salemba Raya 28A dan Jl. Merdeka Selatan 11. Saat ini (Desember 1999) jumlah koleksi diperkirakan 1,100,00 eks, dan jumlah karyawan 700 orang.

Dengan semakin bertambahnya beban tugas dan sejalan dengan kiat Perpusnas dalam menerapkan layanan prima kepada masyarakat, maka diterbitkanlah Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun 1997 tertanggal 29 Desember 1997. Keppres ini menyempurnakan susunan organisasi, tugas dan fungsi Perpustakaan Nasional guna mengantisipasi era globalisasi informasi yang sudah kian mendekat. Di antara penyempurnaan tersebut adalah menciptakan jabatan deputi setingkat eselon Ib dan menaikkan status Perpustakaan Nasional Provinsi (d.h. Perpustakaan Daerah) menjadi eselon II. Melanjutkan kepemimpinan sebelumnya, Hernandono, MA, MLS, menjadi kepala Perpusnas sejak Oktober 1998.

Perpustakaan Nasional RI kini menjadi perpustakaan yang berskala nasional dalam arti yang sesungguhnya, yaitu sebuah lembaga yang tidak hanya melayani anggota suatu perkumpulan ilmu pengetahuan tertentu, tapi juga melayani anggota masyarakat dari semua lapisan dan golongan. Walau terbuka untuk umum, koleksinya bersifat tertutup dan tidak dipinjamkan untuk dibawa pulang. Layanan itu tidak terbatas hanya pada layanan untuk upaya pengembangan ilmu pengetahuan saja, melainkan pula dalam memenuhi kebutuhan bahan pustaka, khususnya bidang ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, guna mencerdaskan kehidupan bangsa.

blogger templates | Make Money Online